23 July 2017

REVIEW FLC8s

Hai Hai
Lama banget gak posting lagi, karena kesibukan pekerjaan.. Masih suka denger dan BTJ berbagai produk sih, cuman jarang nulis impresi lagi aja, karena kalau mau nulis impresi harus dalam keadaan jiwa yang tenang.

Sampai akhirnya minggu kemarin IEM andalan selama ini, ATH-IM03, hilang entah kemana.. Sakit banget rasanya, kayak elu boker di WC umum sambil bawa uang cash 4 juta lebih, terus beres boker langsung keluar aja dan uangnya ketinggalan di dalam 😐

Akhirnya setelah browsing, inget2 IEM yang pernah diaudisi, dan bertapa, mendaratlah pada pilihan FLC8s or Eternal Melody EM2. Sebenarnya pengen earsonic velvet, cuman jarang yg jual.
EM2 udah denger langsung dan gw suka, tapi tertarik jg dengan FLC8s karena tunable, maklum musik gw campuraduk. Agak was-was juga sebenarnya dengan konfigurasi hybridnya, takut gak koheren. Buat yang kenal sama gw, mungkin udah tau klo gw itu rese banget sama isu koherensi. Yasudalah, nyari pengalaman baru juga, akhirnya gw BTJ ambil FLC8s. Kali ini bukan review sih judulnya, tapi lebih ke curhat, so gw ga akan sedetil kayak biasanya..

Highlight
FLC8s adalah IEM hybrid single dynamic dan dual BA, dengan opsi tuningan suara yang buanyaakk. Ada 3 opsi tuning : 3x sub-bass, 3x bass, dan 4x mid-high. Itungan orang bule sih, ada 36 possible tuning, gw jg gatau gimana bisa dapet angka segitu, maklum kalkulus C 😁
Harganya kisaran USD $350, pasar asia tenggara kisaran SGD $485, dan di Indonesia sendiri kisaran Rp 4,9 juta. Mahal? Kalau mau murah mah beli nasi uduk aja.. Yaudahlah, jadikan motivasi buat nabung dan kerja keras 😆

Paket Penjualan
Kotak penjualannya sebenarnya tidak menarik pembeli kalau dijual di supermarket. Hanya box karton coklat tanpa embel-embel apapun selain logo perusahaan. Andai saja diberi logo hi-res audio, mungkin akan menarik minat pembeli. Namun ternyata ketika dipegang dan dibuka cukup berat, tebal, dan pembuka kotaknya bermagnet, membuat kesan mahal dan premium. Kotak seperti ini pun membuat IEM akan aman kalau dikirim-kirim, gak perlu packing kayu apalagi packing stainless steel agar aman.
Di dalamnya ternyata banyak banget aksesoris :
- IEM
- kitab dan panduan tuning (nice to have, buat yg suka lupa kode warna filternya)
- Filter tuning beserta sparenya (nice to have, karena filternya gampang ilang dan rusak)
- Metal case bulat (nice to have, kokoh berat dan kuat, mungkin hanya serangan bom nuklir yang bisa menghentikannya)
- eartis 4 ukuran (nice to have, makin banyak pilihan ukuran makin mudah mendapat kenyamanan)
- pinset (nice to have, buat ganti filter bass yg kecil dan ringkih)
- flight and 6,3mm adapter

Fisik
FLC8s surprisingly bodynya kecil, bayangan gw dengan masukin dynamic driver bakal jadi besar housingnya, ternyata tidak juga. IM03 gw dengan triple BAnya bahkan jauh lebih besar. Nice FLC, karena tidak akan menyusahkan bagi orang yang kupingnya kecil
Bahan body plastik berkualitas, dengan finishing glossy yang mudah banget meninggalkan sidik jari. Bobot IEMnya ringan, tidak akan membebani kuping. Bentuknya ergonomis, mirip-mirip shure. Fittingnya pun nyaman dan mudah.
Kabel braidednya tidak microphonic, hanya saja agak kaku. Jacknya panjang dan ramping, harusnya tidak menyulitkan kalau colok ke handphone yang pakai case tambahan.
As always, eartips bawaannya so-so, tidak sebusuk bawaannya ATH IM series yang bisa bikin cedera kuping, namun harusnya untuk kelas segini bisa lebih lembut dan nyaman lagi.

Tuning Option
Kustomisasi FLC8s terbagi dalam 3 port tuning yang terdapat di bagian dalam, bagian luar, serta filter di nozzle. Ada tuning keempat sebenarnya, yaitu no filter at all. Ada tuning kelima bahkan, yaitu kabel detachnya yang menggunakan 2-pin JH-UE style.
Detil kustomisasinya dalam gambar berikut :

Sub bass - bahan karet : Clear(irit), Gray(sedang), Red(Besar)
Bass - plastik kayak paku payung : Clear(Irit), Gray(sedang), Black(Besar)
Mid&high - metal di nozzle : Gold(mid banyak, high sedang), Gun blue yg lebih terlihat sebagai abu-abu tua (mid dan high sedang), Green (mid sedang, high banyak), dan Blue (high nyungsep)
Filter tuningannya disimpan dalam gantungan kunci berbentuk tabung. Filternya kecil-kecil dan gampang ilang (terutama filter bass), kalau termakan oleh pun tidak akan terasa, so harus hati-hati. Penggunaannya sendiri tidak praktis, harus colok lepas bagian-bagian kecil, plus gampang rusak. Gonta-ganti filter ini bukan pekerjaan simpel dan mudah, semoga revisi kedepannya bisa dibuat bahan yang lebih kuat dan dipermudah kustomisasinya.

Sound
As always, source gw laptop+dacport, which is pretty neutral sounding dan diharapkan tidak terlalu mengkolorasi karakter asli IEM ini.
Gw ga akan jabarin satu-satu possible tuningnya, buset dah kalau harus bahas 36 suara bisa panjang banget tulisan ini kayak thesis. Gw hanya bakal garis besarnya saja, karena perlu diingat dengan filter apapun FLC8s tetap mempertahankan soundsignature defaultnya : balance and slighty on the bright side

Sub bass and bass
Apapun musiknya, gw selalu pakai filter sub bass red, karena paling oke getaran sub bassnya dan tidak mengganggu samasekali. Filter clear membuat bass agak roll off, sedangkan gray getaran sub bassnya kurang berasa.
Filter bass clear sangat jarang saya pakai, karena bass terlalu kurus. Filter gray paling oke, dikombinasikan dengan sub bass filter red, bass jadi balance antara detil, impact, speed, dan claritynya. Filter bass black membuat body mid bass lebih tebal dan lebih berimpact namun mulai kehilangan clarity dan mulai lebih lambat (bukan berarti lelet yah, tetap cepat kok).
Overall, bass pada FLC8s ini memiliki impact yang tight, clean, clarity mantap, detil yahud, speed cepat, namun teksturnya tidak seperti dynamic tulen yang bener-bener berasa gregetnya. Mungkin FLC ingin menjaga koherensi dengan driver BAnya, sehingga dituning demikian. Jangan kecewa dulu, karena kalau dibandingkan dengan bass mostly BA (saya ambil contoh IM03 dan EM2), FLC8s ini masih lebih punya dynamic texture di bassnya.
Catatan penting lainnya, pakai settingan bass terkuat sekalipun, FLC8s menurut saya tetap tidak bisa memuaskan dahaga basshead, bahkan impactnya masih kalah ganas dibanding IEM sekelas carbo douza sekalipun.

Mid and high
Filter blue and green sangat jarang saya pakai, karena terlalu ekstrim suaranya. Blue sangat menahan high hingga terasa roll off dan nyungsep, sedangkan green membuat high lebih liar, sparkly, very airy, namun spiky tajam dan membuat midrange jadi kurus. Blue cocok bagi Anda yang benci treble, dan green meski memboost high in unnatural way namun mungkin cocok buat anda yang suka tajam.
Filter gold dan gun blue adalah favorit saya, membuat FLC8s ini sangat bersinar di region mid and high. Sangat clean, bening, dan kaya akan detail tanpa membuatnya jadi clinical.
Filter gold membuat mid lebih sedikit lebih maju terutama di vokal cewek (namun tidak forward nyemprot). Vocal terasa sweet and smooth, jarang sibilance, pokoknya very nice lah. Detail dan clarity pun sangat baik, tiap petikan senar, dentingan piano, terompet, dan bunyi-bunyian midrange lainnya terasa sekali detilnya. Salahsatu terbaik dikelasnya lah klo kalian nyari detail dan clarity midrange namun tetap musikal dan nyaman didengarkan berlama-lama. High pun demikian, terasa crisp dan airy, jarang terdengar tajam (kecuali anda sangat sensitif or musiknya emang tajam), dengan detail yang sangat baik meski tidak wow amat. Tidak wow amat, soalnya kadang detail dan tekstur suara simbal masih agak flat.
Filter gun blue merupakan favorit lainnya, saya sampai bingung mau pakai yang mana. Filter ini memberikan suara yang lebih balance antara mid dan high. Midrange terasa lebih flat dan netral, posisinya lebih ketengah dibanding filter gold, namun tetap mempertahankan detail dan clarity yang sangat baik. Perbedaannya ada di high, gun blue ini terasa lebih airy, dan juga memberikan kesan lebih luas dengan level detail dan clarity yang sama.

Separasi and Soundstage

Separasi dan detail no complain at all. Sangat baik di kelasnya. Pemisahan suara terasa sangat jelas, tidak ada yang bertumpuk meski banyak instrumen riuh rusuh brutal dan cepat sekalipun. Tetap rapi, jelas, dan tegas.
Jika daritadi kalian bosan mendengar saya selalu memuji FLC8s dan ingin mencari celah untuk mencela, soundstage adalah celanya. FLC8s tidak bisa dikatakan sempit, soundstage cukup luas dengan center imaging sangat baik dan proporsi antara widh-height-depthnya bagus. Positioning instrumennya pun oke, tidak sulit menentukan darimana arah datang suara. Imaging proporsionalnya pun membuat kita lebih immersive di dalam musik, bukan seperti menonton konser musik. Namun untuk kelas harga segini, saya expect soundstage yang lebih besar dan megah. ATH IM03 memberikan soundstage yang lebih megah dari ini, terutama di bagian depth yang lebih terasa kesan jarak jauh dekatnya. Belum cukup disitu, eternal melody EM2 bahkan ATH-IM02 pun punya width yang lebih baik.

Recommended Tuning
Tentu saja urusan tuning ini disesuaikan dengan selera, bukankan karena itu FLC8s ini diciptakan? Selera tiap orang berbeda, Anda tidak berhak membinasakan orang yang lagi makan duren hanya karena Anda tidak suka duren. Namun buat yang sekedar ingin tahu pendapat saya, berikut rekomendasi saya (urutan filer : sub bass/bass/mid-high) :
1. Red/Gray/Gold
FLC8s sangat allrounder dengan filter ini, terutama di musik modern. Pop, rock, metal, dangdut goyang semua pokoknya.
2. Red/Gray/Gun Blue
FLC8s jadi lebih netral, cocok buat klo suka suara relatif netral tanpa forward sounding. Lebih ke buat penggemar akustik, classic, and instrumental.
3. Red/Clear/Gun Blue
Cocok buat yang suka berlama-lama dengerin orang ngebacot di radio, or setel TV yang acaranya orang banyak bacot dan bualan dimana-mana
4. Red/Black/Gold or Green
Cocok buat jedug-jedug, or ganti Gold dengan Green buat yang suka V-shaped sound

Isu Koherensi
Meski tidak sesensitif isu ras dan agama, namun isu koherensi ini di beberapa orang kerap jadi perhatian lebih. Saya pribadi merasa kadang masih ada frekuensi yang "kosong", terutama ketika nyetel lagu rusuh kayak metal. Dan juga, meski tidak separah hybrid low end (merk saya sensor, takut dibully), saya secara samar masih bisa menangkap perbedaan bunyi dynamic dan BAnya. Namun bagi saya, itu samasekali bukan isu yang besar. Tidak mengganggu banget, dan saya masih bisa mendengarkan musik dengan sangat nikmat. Bagi saya, FLC8s ini merupakan salahsatu hybrid dengan koherensi terbaik. Bahkan FLC8s ini mungkin akan saya keep dengan waktu yang lama, mungkin sampai bisa kebeli upgradenya.

Kesimpulan
FLC8s, salahsatu contoh sukses IEM dengan kemampuan tuning manual yang banyak. Kemampuan tuningnya really works dan berpengaruh, bukan cuman bualan team marketing doang.
Meski berkemampuan tuning manual, bukan berarti karakternya bisa berubah secara ekstrim. Karakter balance musical slighty on the bright side tetap terasa pada apapun filter yang dipakai. Dia tidak bisa jadi basshead jedug-jedug, ataupun jadi superduper detail analitycal. Meski dengan banyak tuning pun, tetap saja pasti ada orang yang tidak terpuaskan. Itulah kenyataan hidup, Anda tidak bisa mendapatkan segalanya sekaligus, harus ada yang dikorbankan.
Bicara sound quality pun, FLC8s tidak main-main, benar-benar penantang serius di kelasnya, salahsatu yang terbaik malah menurut saya.
So, sound quality oke plus tuning manual, apalagi ekspektasi Anda?

Plus :
- manual tuning option + detachable cable
- clarity and detail midrange
- salahsatu yang terbaik kalau very good overall sound quality di kelasnya tanpa membuatnya jadi clinical/analytical
Minus :
- manual tuning ribet dan filternya rentan rusak/hilang
- lack dynamic texture on bass, padahal udah pakai driver dynamic bukan full BA
- soundstage harusnya lebih oke untuk kelas harga segini

11 comments:

  1. Alhamdulillah, iseng-iseng mampir ternyata feeling saya benar. Ada postingan baru di sini.
    Belum baca, nunggu dapat jiwa yang tenang dulu. Karena masih jam kantor :-)

    Semangat update postingan lagi, Bang Gobedh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih udh jarang ngepost lagi, udh jarang punya waktu kayak dulu :(

      Delete
    2. Bikin vlog aja bang. Sayang BTJ nya kalau gak ada review hehehe

      Delete
    3. BTJ lbh ke mental sih om. Hha

      Vlog mah butuh berkorban waktu jauh lbh banyak drpd tulisan euy om.. Meski skrg vlog jauh lbh diminati, gw blm siap buat berkorban waktu sebanyak itu. Editing, persiapan materi, dll nya..
      Klo tulisan kan bisa disela-sela kesibukkan

      Delete
  2. alhmdulillah postingan baru.bang gobedh,mau tanya pertanyaan lama. mungkin bang gobedh belum baca. :)

    HP sy LG G3, headphone sennheiser hd202 dan dbe pr18 rev ii, player foobar2000..untuk meningkatkan sound quality pilihan DAC nya apa ya yg cocok?
    kalo pake fiio a1 apa signifikan nggak peningkatannya..
    mohon saran bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo buat G3 mending upgrade cans aja seriously

      Klo ke PC, jgn A1 klo nyari DAC. Go for fiio E10k (warm, bassier) or SMSL M2 (clean neutral but some people say bright)

      Delete
    2. ada saran untuk upgrade cans bang?
      budget sekitar 500ribu, maklum kerhor :). sy maen hp saja kok, untuk foobar2000 itu aplikasi player di android sy.

      Delete
    3. TFZ 1 series, takstar HI1200, nambah lagi ada co-donguri

      Delete
  3. Ikutan nimbrung ya
    Kira-kira upgrade cans apa ya? Kalau bisa yg kerhor

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya persempit kerhor itu <500rb, sesuai sama moto awal pendirinya..
      downgrade sih itungannya klo dibandingin sama ini mah

      Delete