02 February 2018

REVIEW KOMPARASI ABnormal Duotres vs Elibuds Sabia Pro v2


Sudah lama rasanya saya tidak main earbud lagi.
Kini earbud lokal banyak membanjiri pasar tanah air, dengan kualitas yang tidak main-main, bahkan sudah bisa membuat earbud buatan pabrikan ternama menjadi terasa overpriced!
Masih ingat Elibuds Sabia V1 yang begitu tenar di tanah air dan juga mengharumkan nama Indonesia di pasar earbud luar negri? Atau Edimun yang sempat sangat diapresiasi bule-bule dan ngehits di pasar lokal? Dan masih banyak lagi builder-builder lokal yang tidak bisa disebutkan satu-satu yang kerap melahirkan earbud dengan kualitas mencengangkan.

Waktu pun berlalu, produk datang silih berganti membanjiri pasar. Beberapa earbud ternama tinggal legenda saja. Beberapa generasi penerus ada yang berhasil merebut pasar yang lebih luas, namun ada juga yang kehilangan penggemar.

Saat ini, ada 2 yang cukup menarik perhatian saya. Pertama adalah abnormal duotres, saya langsung jatuh cinta saat pertama kali mendengar. Tak afdol rasanya jika hanya berlari sendiri, saya coba mencari pesaing di harga yang sama. Muncullah elibuds sabia v2, masih anget dari oven. Meski saya belum nyoba, tapi membawa nama tenar "elibuds", saya tidak ragu membawanya dalam komparasi kali ini

Paket Penjualan
Tidak seperti sabia v1, jajaran elibuds kini datang dengan packing yang lebih sederhana dan low profile, tidak terkecuali sabia pro v2. Kurang wow jika dibandingkan dengan generasi awal, namun jika dibandingkan dengan Ve monk atau Ty-hiz tentu saja elibuds terlihat lebih "niat jualan" . Singkat cerita, di dalam kotaknya terdapat earbud, zipper case, dan beberapa pasang foam termasuk donut foam.
Abnormal duotres datang dengan packing yang tidak kalah sederhana. Namun tidak seperti produk lokal lainnya, kotaknya tersegel bertuliskan "don't accept if seal broken" memberi kesan "wow, ini builder serius juga yah". Dan bagusnya, di dalamnya terdapat case metal yang sudah pasti lebih durable dan memberi perlindungan lebih daripada zipper case. Tak lupa, beberapa pasang foam terselip di dalam, namun tanpa opsi donut foam seperti sabia pro v2.
So, tanpa diragukan lagi, Abnormal Duotres unggul di sisi ini
*Maaf kotak sabia pro v2 dan duotres tertukar*


Desain, Build Quality, dan Fitur
Keduanya berbagi platform yang sama, yaitu housing earbud sejuta umat. So, tidak perlu dibahas lagi seperti apa fitting dan kenyamanannya. Tidak ada perbedaan diatara keduanya ketika dipakai. Perbedaan datang dari sisi kosmetik dan build quality.
Sabia pro v2 tampil apa adanya, putih polos dengan logo kebanggaannya. Duotres berusaha tampil lebih mewah dengan aksen emas pada logonya, dan itu berhasil membuatnya lebih terlihat mahal. Duotres pun unggul dari segi build quality, di mana sabia pro v2 ada ketidakrapihan pada penutup housing, lemnya tidak lurus. Memang mungkin ini hanya saya saja yang sial dapat batch jelek, namun melihat masalah yang sama tidak hadir pada duotres menggambarkan Abnormal lebih ketat dalam soal QC dan build quality.

Beralih ke kabel dan jack, keduanya sangat memuaskan dalam hal kualitas pembuatan, terasa mantap dan tidak ada kesan ringkih atau mudah putus. Sabia pro v2 kabelnya sedikit lebih tipis namun lebih lentur dibandingkan duotres yang lebih tebal, sedikit kaku, dan lebih bouncy. Jack meski keduanya terlihat besar, namun ujungnya melancip sehingga tidak menyulitkan bagi pengguna smartphone yang menggunakan case tambahan. Sedikit catatan, jack duotres yang lebih ramping membuat dia lebih fleksibel terhadap berbagai jenis case.
Sabia pro v2 memiliki mic yang tidak dimiliki oleh duotres. Meski tanpa music control, namun ini tentu membuat pengguna smartphone lebih bahagia.

Suara
Tibalah kita pada sisi yang ditunggu-tunggu, yaitu bagaimana kualitas suaranya? Saya langsung menggunakan dacport sebagai sourcenya dan mengesampingkan penggunaan hape. Selain hemat waktu mereview, juga agar tidak ada kata-kata "ah sourcenya sampah", "ah nanti underpower", dan berbagai cacian lainnya.
Keduanya tanpa ragu saya katakan sangat worthed di harganya, kere hore banget! Tidak bisa protes terhadap sound quality yang ditawarkan keduanya. Namun keduanya meski sama-sama menawarkan suasana yang sama : neutral slighty warm, ternyata memiliki karakter dasar yang sangat berbeda. Duotres mengandalkan karakter slighty V-shaped, sedangkan sabia pro v2 justru kebalikannya, seperti mangkok terbalik kalau respon frekuensinya digambarkan secara general. Mari kita simak detilnya.

Low
Urusan ini tanpa diragukan lagi, Duotres juaranya. Punchy dan impactful, dengan ekor bass yang pendek sehingga tidak bleberan kemana-mana. Bass terasa dinamis, empuk, dan deep. Lagu-lagu dengan bass cepat dilahap dengan sangat baik, tidak ada yang namanya kedodoran. Detail bass ditampikan dengan baik, begitupun ekstensinya yang baik, tidak terasa roll off untuk ukuran earbud.
Sabia pro v2 memberi pendekatan berbeda. Meski gebukan bassnya tetap mantap, namun tidak se-punchy, impactful, dan dinamis duotres. Sabia pro v2 juga kerap bermasalah dengan lagu-lagu cepat, bassnya kedodoran, terasa lebih "malas". Ekstensi bass tidak sebaik duotres, diperparah dengan kesan agak muffled sehingga beberapa detail kecil tidak sejelas di duotres.

Mid
Jika urusan bass sabia pro v2 dihajar habis oleh duotres, maka di sisi ini gantian duotres yang dihajar habis. Mengedepankan karakter seperti mangkok terbalik, mid sabia pro v2 terasa lebih linear dengan vokal yang sedikit maju. Timbre instrumen midrange terasa natural, tidak seperti duotres yang kadang ada rasa kurang sip karena lower dan upper midrangenya agak berlebihan meledak-ledak yang sedikit mengganggu. Vokal sabia pro v2 terasa lembut, intim, dan sweet. Setel lagu mendayu-dayu sangat nikmat rasanya, lembut dan sangat relaxing. Karakter "malas" sabia pro v2 di sini justru menjadi kekuatannya, membuat anda menjadi malas dan hanya ingin berbaring mendengarkan kelembutan sabia pro v2. Bandingkan dengan duotres, bukan karena lebih mundur vokalnya, namun vokalnya lebih terasa "kaku", dan kerap terserang oleh upper dan lower mid yang galak. Instrumen midrange pun jadinya tidak senatural sabia pro v2 akibat serangan ini.
Sisi positif dari karakter meledak-ledaknya duotres adalah ketika nyetel lagu yang energik atau brutal, terasa full of energy dibanding sabia pro v2 yang lemah lembut. Genjrengan gitar lebih terasa crisp di duotres, namun timbrenya saya lebih suka sabia pro v2 yang lebih natural, tanpa ada kesan diboost.

High
Duotres tampil dengan high yang lebih airy dan sparkling tanpa ada rasa tajam. Ekstensi high cukup baik, dengan detail dan timbre yang mantap jiwa. Sabia pro v2 lebih mengedepankan presentasi smooth, kalem, tidak terlalu sparkling, namun ekstensinya tetap baik. Detail high dimenangkan oleh duotres, suara-suara cymbal terasa lebih oke detail dan timbrenya dibanding sabia pro v2 yang kadang sedikit muffled.

Separasi, Soundstage, dan Detail
Separasi dan detail keduanya berimbang, sama-sama mantap jiwa pokoknya. Memang sih sabia pro v2 kadang sedikit muffled sehingga ada detail yang tampak samar terutama di low dan high dibandingkan dengan duotres. Namun detail di midrange justru sebaliknya sabia pro v2 terasa tidak kalah mantap bahkan dengan presentasi yang lebih natural. Kalau disuruh memilih, saya akan berkata keduanya sama-sama oke.
Soundstage sama-sama cukup luas, dengan kesain airy dan space of instrumen sedikit lebih terasa di duotres. Sabia pro v2 memiliki width yang sedikit lebih baik, namun heightnya kalah oleh duotres. Namun ada satu hal yang sangat berbeda di antara keduanya, yaitu persepsi bentuk stage. Duotres terasa lebih "immersive", anda seperti berada di tengah-tengah musik dan bermain di dalamnya. Sabia pro lebih terasa pull back, seperti ada panggung konser musik di depan anda.

Genre Musik
Duotres sangat bersahabat dengan genre-genre energik dan keras, karena karakternya yang lebih impactful dan agresif. Pop modern hingga rock terasa mantap sekali di duotres. Sabia pro v2 lebih ke musik-musik yang kalem atau vokal, keintiman dan kelembutannya adalah inti dari kuatnya sabia pro v2 di genre ini. Keduanya bukan berarti tidak bisa memainkan musik yang diluar zona nyaman mereka kok. Duotres sedikit unggul di sini, karena dia terasa lebih allrounder, nyetel musik slow dan intim pun masih terasa nikmat meski upper dan lower midrangenya kerap mengganggu, dibanding si pemalas sabia v2 disuruh nyetel musik energik jadinya tidak semangat dan membosankan.

Kesimpulan
Ketika mendengarkan keduanya, anda akan diberikan nuansa neutral to warm, namun dengan pembawaan yang berbeda. Jika keduanya adalah manusia, maka duotres akan berkata pada anda, "let's sing and dance together", sedangkan sabia pro v2 akan berkata, "let me sing a song for you, just relax and enjoy".
Karakter agak V-shapednya duotres menjadikan dia great allrounder, meski di musik-musik yang kalem jadinya seperti "overpower". Sebaliknya, sabia pro v2 begitu nikmat di musik-musik santai, namun dia begitu malas untuk mengajak anda dance di musik-musik energik.

Jika disuruh memilih di antara keduanya, maka saya akan lebih memilih menabung lagi untuk membeli keduanya karena keduanya menawarkan sesuatu yang berbeda, saling melengkapi.

23 July 2017

REVIEW FLC8s

Hai Hai
Lama banget gak posting lagi, karena kesibukan pekerjaan.. Masih suka denger dan BTJ berbagai produk sih, cuman jarang nulis impresi lagi aja, karena kalau mau nulis impresi harus dalam keadaan jiwa yang tenang.

Sampai akhirnya minggu kemarin IEM andalan selama ini, ATH-IM03, hilang entah kemana.. Sakit banget rasanya, kayak elu boker di WC umum sambil bawa uang cash 4 juta lebih, terus beres boker langsung keluar aja dan uangnya ketinggalan di dalam 😐

Akhirnya setelah browsing, inget2 IEM yang pernah diaudisi, dan bertapa, mendaratlah pada pilihan FLC8s or Eternal Melody EM2. Sebenarnya pengen earsonic velvet, cuman jarang yg jual.
EM2 udah denger langsung dan gw suka, tapi tertarik jg dengan FLC8s karena tunable, maklum musik gw campuraduk. Agak was-was juga sebenarnya dengan konfigurasi hybridnya, takut gak koheren. Buat yang kenal sama gw, mungkin udah tau klo gw itu rese banget sama isu koherensi. Yasudalah, nyari pengalaman baru juga, akhirnya gw BTJ ambil FLC8s. Kali ini bukan review sih judulnya, tapi lebih ke curhat, so gw ga akan sedetil kayak biasanya..

Highlight
FLC8s adalah IEM hybrid single dynamic dan dual BA, dengan opsi tuningan suara yang buanyaakk. Ada 3 opsi tuning : 3x sub-bass, 3x bass, dan 4x mid-high. Itungan orang bule sih, ada 36 possible tuning, gw jg gatau gimana bisa dapet angka segitu, maklum kalkulus C 😁
Harganya kisaran USD $350, pasar asia tenggara kisaran SGD $485, dan di Indonesia sendiri kisaran Rp 4,9 juta. Mahal? Kalau mau murah mah beli nasi uduk aja.. Yaudahlah, jadikan motivasi buat nabung dan kerja keras 😆

Paket Penjualan
Kotak penjualannya sebenarnya tidak menarik pembeli kalau dijual di supermarket. Hanya box karton coklat tanpa embel-embel apapun selain logo perusahaan. Andai saja diberi logo hi-res audio, mungkin akan menarik minat pembeli. Namun ternyata ketika dipegang dan dibuka cukup berat, tebal, dan pembuka kotaknya bermagnet, membuat kesan mahal dan premium. Kotak seperti ini pun membuat IEM akan aman kalau dikirim-kirim, gak perlu packing kayu apalagi packing stainless steel agar aman.
Di dalamnya ternyata banyak banget aksesoris :
- IEM
- kitab dan panduan tuning (nice to have, buat yg suka lupa kode warna filternya)
- Filter tuning beserta sparenya (nice to have, karena filternya gampang ilang dan rusak)
- Metal case bulat (nice to have, kokoh berat dan kuat, mungkin hanya serangan bom nuklir yang bisa menghentikannya)
- eartis 4 ukuran (nice to have, makin banyak pilihan ukuran makin mudah mendapat kenyamanan)
- pinset (nice to have, buat ganti filter bass yg kecil dan ringkih)
- flight and 6,3mm adapter

Fisik
FLC8s surprisingly bodynya kecil, bayangan gw dengan masukin dynamic driver bakal jadi besar housingnya, ternyata tidak juga. IM03 gw dengan triple BAnya bahkan jauh lebih besar. Nice FLC, karena tidak akan menyusahkan bagi orang yang kupingnya kecil
Bahan body plastik berkualitas, dengan finishing glossy yang mudah banget meninggalkan sidik jari. Bobot IEMnya ringan, tidak akan membebani kuping. Bentuknya ergonomis, mirip-mirip shure. Fittingnya pun nyaman dan mudah.
Kabel braidednya tidak microphonic, hanya saja agak kaku. Jacknya panjang dan ramping, harusnya tidak menyulitkan kalau colok ke handphone yang pakai case tambahan.
As always, eartips bawaannya so-so, tidak sebusuk bawaannya ATH IM series yang bisa bikin cedera kuping, namun harusnya untuk kelas segini bisa lebih lembut dan nyaman lagi.

Tuning Option
Kustomisasi FLC8s terbagi dalam 3 port tuning yang terdapat di bagian dalam, bagian luar, serta filter di nozzle. Ada tuning keempat sebenarnya, yaitu no filter at all. Ada tuning kelima bahkan, yaitu kabel detachnya yang menggunakan 2-pin JH-UE style.
Detil kustomisasinya dalam gambar berikut :

Sub bass - bahan karet : Clear(irit), Gray(sedang), Red(Besar)
Bass - plastik kayak paku payung : Clear(Irit), Gray(sedang), Black(Besar)
Mid&high - metal di nozzle : Gold(mid banyak, high sedang), Gun blue yg lebih terlihat sebagai abu-abu tua (mid dan high sedang), Green (mid sedang, high banyak), dan Blue (high nyungsep)
Filter tuningannya disimpan dalam gantungan kunci berbentuk tabung. Filternya kecil-kecil dan gampang ilang (terutama filter bass), kalau termakan oleh pun tidak akan terasa, so harus hati-hati. Penggunaannya sendiri tidak praktis, harus colok lepas bagian-bagian kecil, plus gampang rusak. Gonta-ganti filter ini bukan pekerjaan simpel dan mudah, semoga revisi kedepannya bisa dibuat bahan yang lebih kuat dan dipermudah kustomisasinya.

Sound
As always, source gw laptop+dacport, which is pretty neutral sounding dan diharapkan tidak terlalu mengkolorasi karakter asli IEM ini.
Gw ga akan jabarin satu-satu possible tuningnya, buset dah kalau harus bahas 36 suara bisa panjang banget tulisan ini kayak thesis. Gw hanya bakal garis besarnya saja, karena perlu diingat dengan filter apapun FLC8s tetap mempertahankan soundsignature defaultnya : balance and slighty on the bright side

Sub bass and bass
Apapun musiknya, gw selalu pakai filter sub bass red, karena paling oke getaran sub bassnya dan tidak mengganggu samasekali. Filter clear membuat bass agak roll off, sedangkan gray getaran sub bassnya kurang berasa.
Filter bass clear sangat jarang saya pakai, karena bass terlalu kurus. Filter gray paling oke, dikombinasikan dengan sub bass filter red, bass jadi balance antara detil, impact, speed, dan claritynya. Filter bass black membuat body mid bass lebih tebal dan lebih berimpact namun mulai kehilangan clarity dan mulai lebih lambat (bukan berarti lelet yah, tetap cepat kok).
Overall, bass pada FLC8s ini memiliki impact yang tight, clean, clarity mantap, detil yahud, speed cepat, namun teksturnya tidak seperti dynamic tulen yang bener-bener berasa gregetnya. Mungkin FLC ingin menjaga koherensi dengan driver BAnya, sehingga dituning demikian. Jangan kecewa dulu, karena kalau dibandingkan dengan bass mostly BA (saya ambil contoh IM03 dan EM2), FLC8s ini masih lebih punya dynamic texture di bassnya.
Catatan penting lainnya, pakai settingan bass terkuat sekalipun, FLC8s menurut saya tetap tidak bisa memuaskan dahaga basshead, bahkan impactnya masih kalah ganas dibanding IEM sekelas carbo douza sekalipun.

Mid and high
Filter blue and green sangat jarang saya pakai, karena terlalu ekstrim suaranya. Blue sangat menahan high hingga terasa roll off dan nyungsep, sedangkan green membuat high lebih liar, sparkly, very airy, namun spiky tajam dan membuat midrange jadi kurus. Blue cocok bagi Anda yang benci treble, dan green meski memboost high in unnatural way namun mungkin cocok buat anda yang suka tajam.
Filter gold dan gun blue adalah favorit saya, membuat FLC8s ini sangat bersinar di region mid and high. Sangat clean, bening, dan kaya akan detail tanpa membuatnya jadi clinical.
Filter gold membuat mid lebih sedikit lebih maju terutama di vokal cewek (namun tidak forward nyemprot). Vocal terasa sweet and smooth, jarang sibilance, pokoknya very nice lah. Detail dan clarity pun sangat baik, tiap petikan senar, dentingan piano, terompet, dan bunyi-bunyian midrange lainnya terasa sekali detilnya. Salahsatu terbaik dikelasnya lah klo kalian nyari detail dan clarity midrange namun tetap musikal dan nyaman didengarkan berlama-lama. High pun demikian, terasa crisp dan airy, jarang terdengar tajam (kecuali anda sangat sensitif or musiknya emang tajam), dengan detail yang sangat baik meski tidak wow amat. Tidak wow amat, soalnya kadang detail dan tekstur suara simbal masih agak flat.
Filter gun blue merupakan favorit lainnya, saya sampai bingung mau pakai yang mana. Filter ini memberikan suara yang lebih balance antara mid dan high. Midrange terasa lebih flat dan netral, posisinya lebih ketengah dibanding filter gold, namun tetap mempertahankan detail dan clarity yang sangat baik. Perbedaannya ada di high, gun blue ini terasa lebih airy, dan juga memberikan kesan lebih luas dengan level detail dan clarity yang sama.

Separasi and Soundstage

Separasi dan detail no complain at all. Sangat baik di kelasnya. Pemisahan suara terasa sangat jelas, tidak ada yang bertumpuk meski banyak instrumen riuh rusuh brutal dan cepat sekalipun. Tetap rapi, jelas, dan tegas.
Jika daritadi kalian bosan mendengar saya selalu memuji FLC8s dan ingin mencari celah untuk mencela, soundstage adalah celanya. FLC8s tidak bisa dikatakan sempit, soundstage cukup luas dengan center imaging sangat baik dan proporsi antara widh-height-depthnya bagus. Positioning instrumennya pun oke, tidak sulit menentukan darimana arah datang suara. Imaging proporsionalnya pun membuat kita lebih immersive di dalam musik, bukan seperti menonton konser musik. Namun untuk kelas harga segini, saya expect soundstage yang lebih besar dan megah. ATH IM03 memberikan soundstage yang lebih megah dari ini, terutama di bagian depth yang lebih terasa kesan jarak jauh dekatnya. Belum cukup disitu, eternal melody EM2 bahkan ATH-IM02 pun punya width yang lebih baik.

Recommended Tuning
Tentu saja urusan tuning ini disesuaikan dengan selera, bukankan karena itu FLC8s ini diciptakan? Selera tiap orang berbeda, Anda tidak berhak membinasakan orang yang lagi makan duren hanya karena Anda tidak suka duren. Namun buat yang sekedar ingin tahu pendapat saya, berikut rekomendasi saya (urutan filer : sub bass/bass/mid-high) :
1. Red/Gray/Gold
FLC8s sangat allrounder dengan filter ini, terutama di musik modern. Pop, rock, metal, dangdut goyang semua pokoknya.
2. Red/Gray/Gun Blue
FLC8s jadi lebih netral, cocok buat klo suka suara relatif netral tanpa forward sounding. Lebih ke buat penggemar akustik, classic, and instrumental.
3. Red/Clear/Gun Blue
Cocok buat yang suka berlama-lama dengerin orang ngebacot di radio, or setel TV yang acaranya orang banyak bacot dan bualan dimana-mana
4. Red/Black/Gold or Green
Cocok buat jedug-jedug, or ganti Gold dengan Green buat yang suka V-shaped sound

Isu Koherensi
Meski tidak sesensitif isu ras dan agama, namun isu koherensi ini di beberapa orang kerap jadi perhatian lebih. Saya pribadi merasa kadang masih ada frekuensi yang "kosong", terutama ketika nyetel lagu rusuh kayak metal. Dan juga, meski tidak separah hybrid low end (merk saya sensor, takut dibully), saya secara samar masih bisa menangkap perbedaan bunyi dynamic dan BAnya. Namun bagi saya, itu samasekali bukan isu yang besar. Tidak mengganggu banget, dan saya masih bisa mendengarkan musik dengan sangat nikmat. Bagi saya, FLC8s ini merupakan salahsatu hybrid dengan koherensi terbaik. Bahkan FLC8s ini mungkin akan saya keep dengan waktu yang lama, mungkin sampai bisa kebeli upgradenya.

Kesimpulan
FLC8s, salahsatu contoh sukses IEM dengan kemampuan tuning manual yang banyak. Kemampuan tuningnya really works dan berpengaruh, bukan cuman bualan team marketing doang.
Meski berkemampuan tuning manual, bukan berarti karakternya bisa berubah secara ekstrim. Karakter balance musical slighty on the bright side tetap terasa pada apapun filter yang dipakai. Dia tidak bisa jadi basshead jedug-jedug, ataupun jadi superduper detail analitycal. Meski dengan banyak tuning pun, tetap saja pasti ada orang yang tidak terpuaskan. Itulah kenyataan hidup, Anda tidak bisa mendapatkan segalanya sekaligus, harus ada yang dikorbankan.
Bicara sound quality pun, FLC8s tidak main-main, benar-benar penantang serius di kelasnya, salahsatu yang terbaik malah menurut saya.
So, sound quality oke plus tuning manual, apalagi ekspektasi Anda?

Plus :
- manual tuning option + detachable cable
- clarity and detail midrange
- salahsatu yang terbaik kalau very good overall sound quality di kelasnya tanpa membuatnya jadi clinical/analytical
Minus :
- manual tuning ribet dan filternya rentan rusak/hilang
- lack dynamic texture on bass, padahal udah pakai driver dynamic bukan full BA
- soundstage harusnya lebih oke untuk kelas harga segini

25 March 2016

REVIEW Dunu Titan 5

Jatuh cinta pertama saya pada produk Dunu ada di Dunu trident, entry level IEM dengan build quality dan desain superb plus suara yang sangat bersaing di kelasnya. Kemudian Dunu DN1000, IEM hybrid dynamic+BA yang suaranya enak dan "gak aneh-aneh".
Penasaran dengan Titan series, keluarga pertama yang saya coba adalah Fiio EX1, saudaranya Titan 1. Berbeda dengan seri Dunu lainnya yang saya coba, EX1 ini suaranya unik banget, "unik", tipikal suara yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang. Nah, bagaimana dengan Titan 5 yang dijual sekitar US$ 139 ini ini?

Spesifikasi
Driver : dynamic 13mm
Freq response : 10Hz-40kHz
SPL : 108 dB
Impedance : 32 Ohm
Plug size : 3,5mm gold plated
Cord length : 1,2 m
Weight : 24g

Paket Penjualan dan Aksesoris
As always, Dunu selalu mengemas produknya secara premium. Box karton hitam dengan gambar dan warna elegan, lengkap dengan logo Hi-Res yang kerap dibangga-banggakan, siap menarik perhatian calon pembeli.
Box ini memiliki 2 pintu berpengunci magnet, seolah berusaha menjelaskan pada Anda bahwa IEM yang akan Anda beli adalah IEM premium.
Akeseoris yang diberikan cukup banyak :
1. Dua jenis silicone tips : Sony tips dan Dunu tips, masing-masing size S/M/L
2. Carrying case yang terbuat dari hard plastic yang cukup keren
3. Ear stabilizer
4. Converter jack 3,5 to 6,3
5. Shirt clip
Meskipun carrying case yang diberikan bagus, tapi menurut saya ukurannya terlalu pas-pasan, sehingga Anda hanya bisa membawa IEM saja di dalamnya, Anda akan sedikit kesulitan jika ingin sekalian membawa aksesoris lain di dalamnya.
Desain, Build Quality, dan Penggunaan
Desain Titan 5 masih serupa dengan Titan lainnya, bentuk "semi-IEM" yang terbuat dari metal. Bahan metal yang digunakan sangat solid dengan finishing shiny bling bling, terlihat keren karena kinclong mengkilat, dan tidak akan keren lagi ketika sekujur bodynya kena banyak sidik jari atau jejak keringat yang mengering.
Di samping menggunakan bahan metal berkualitas, Dunu menyempurnakannya juga dengan kualitas pembuatan yang oke. Tidak ada inkonsistensi celah antarpanel, tidak ada ujung-ujung runcing dan tidak rapi di pinggiran bodynya.
Masih belum cukup, Dunu menyertakan pula fitur yang kerap digemari di IEM-IEM terkini : detachable cable. Menggunakan pin MMCX, sayangnya kurang kompatible dengan MMCXnya Shure sehingga pilihan kabel after market untuk Titan 5 ini menjadi terbatas. Setidaknya tetap ada celah kustomisasi pada kabel Titan 5 ini, misalnya kedepannya Dunu menjual Titan 5 cable upgrade/replacement, atau cable with mic.
Ada satu hal yang harus Anda bayar ketika Anda mendapat IEM dengan build quality dan fitur detachable seperti Titan 5 ini :  bobotnya menjadi berat.
Untungnya, Dunu tahu akan hal ini, sehingga di paket penjualan disediakan earstabilizer yang surprisingly sangat membantu bagi Anda yang kesulitan fitting atau merasa tidak nyaman karena bobot Titan 5 ini.
Beralih ke kabel, inilah bagian yang saya suka. Bahan pembungkus kabelnya bagus, tidak "mentul-mentul" dan tidak banyak meninggalkan bekas lipatan ketika digulung. Fitur-fitur pada kabelnya saya suka banget : chin slider/cable stopper, shirtclip, dan built-in tali karet penggulung kabel. Jacknya L-shaped, dengan profil ramping yang tidak akan menyulitkan bagi Anda yang gemar menggunakan case tambahan pada smartphone atau gadget audio Anda.
Bicara fitting dan kenyamanan, Titan 5 ini terasa cukup nyaman. Fittingnya pun sangat mudah. Bagi Anda juga bisa menggunakan earstabilizer jika merasa kesulitan fitting atau IEMnya sering melorot akibat bobotnya yang cukup berat.
Isolasi Titan 5 terbilang biasa saja, untuk sebuah IEM saya berharap lebih. Saya mendengarkan musik di kereta, suara-suara dari luar cukup banyak yang masuk, meski tentu tidak sebanyak jika menggunakan earbud ataupun open headphone. 
Suara
Seperti biasa, setup utama yang digunakan pada review ini laptop+centrance dacport, player foobar2000 with ASIO out.
Setup lainnya yang dicoba : xduoo X2, xduoo X2 mod, xduoo x3, dan AK240.

Titan 5 ini karakter utamanya dynamic, fun V-shaped, dan lebih bisa diterima banyak orang dibanding Fiio EX1.

Bass adalah salahsatu jualan utama Titan 5 ini. Bassnya besar, deep, empuk, dan bulat. Meskipun bassnya besar tapi tidak berlebihan, artinya Anda yang basshead mungkin masih butuh bass sedikit lagi tapi apa yang ditawarkan Titan 5 tidak akan membuat Anda protes keras. Begitupun sebaliknya, bagi Anda yang tidak suka bass besar, bass Titan 5 ini tidak terlalu mengganggu luber kemana-mana sehingga Anda masih bisa menikmati.
Bass memiliki ekstensi yang bagus, bisa sampai frekuensi rendah dan tidak terasa roll off early. Lowbassnya bagus, getar-getar sub bass pun cukup terdengar. Impact midbassnya tidak sebagus lowbass, di beberapa lagu saya kehilangan sedikit midbass punch, namun bukan masalah besar. Kontrol bass terbilang cukup bagus, tidak bleberan kemana-mana, dan tidak boomy. 
Pukulan bass pun terasa lincah, sanggup mengikuti beat-beat cepat, tapi tidak dengan beat-beat musik-musik sejenis metal karena bassnya terasa kurang tight. Cocoknya untuk musik-musik seperti trance, pop modern, dan sejenisnya.

Seperti karakter V-shaped pada umumnya, Midrange Titan 5 ini terasa agak mundur di belakang bass dan treble, tapi bukan berarti ketutupan. Suara-suara instrumen midrange cukup jernih dan timbrenya saya suka. Namun menurut saya ada sedikit veiled di lower midrange, sehingga kadang suara-suara midrange rendah seperti sedikit tertahan.
Meski ada di belakang bass dan treble, vokal ditampilkan dengan cukup baik, terutama vokal wanita yang terasa jernih. Namun untuk vokal pria, saya pribadi merasa sedikit kurang lepas, seperti misal ketika saya mendengarkan lagu-lagu Tulus ataupun Muse. Vokal ada sedikit sibilance jika rekamannya kurang bagus atau kualitas filenya buruk (dikompres berlebihan). Namun jika rekaman dan filenya bagus, sibilance yang muncul tidak mengganggu menurut saya.

Treble Titan 5 ini presentasinya cukup sparkling cring cring. Saya suka dengan suara-suara simbalnya, timbrenya enak aja gitu di telinga saya, bobotnya pas dan tidak cempreng, dengan tekstur dan detail yang oke. Sayangnya, Titan 5 ini ada peak pada lower treble, sekitar 5-7kHz kalau pada frekuensi Foobar. Hasilnya sudah bisa ditebak, pada lagu-lagu tertentu, Titan 5 ini akan terasa tajam dan cukup fatiguing, misalnya ketika saya mendengarkan lagu The Used album artwork, treblenya benar-benar bikin cepat capek. Namun jika lagu-lagu Anda tidak agresif di sekitar frekuensi tersebut, misalnya lagu-lagu pop/pop rock masa kini seperti Maroon 5, saya rasa Titan 5 ini tidak tajam.

Separasi terasa bagus, antarinstrumen terasa terpisah, tidak bertumpuk. Begitupun detail, meski bukan level detail monster atau analitik, namun untuk bermusik detail yang diberikan Titan 5 sudah baik. Soundstage hanya average, atau mungkin sedikit di atas rata-rata. Tidak sempit, namun jika dibandingkan Fiio EX1 jelas terasa Titan 5 ini lebih sempit dan lebih minim kesan airy-nya.

Bicara genre musik, Titan 5 ini cocoknya untuk musik-musik pop masa kini, atau lagu-lagu yang sering nongkrong di top chart or grammy awards. Untuk jazz seperti Winterplay pun masih oke. Untuk lagu-lagu yang lebih keras, misal screamo, metal, post hardcore, dan yang sejenisnya, Titan 5 kurang cocok, karena selain bassnya kurang tight untuk musik-musik demikian, tajamnya treble kadang mengganggu kenikmatan juga.

Kesimpulan
Titan 5 merupakan keluarga Titan yang suaranya dituning lebih ke arah fun and dyamic sound. Bass yang besar, deep, dan empuk, dilengkapi treble yang cring sparkling merupakan ramuan klasik agar sebuah IEM mudah diterima orang, baik dari kalangan awam hingga maniak audio.
Titan 5 berhasil menerapkan ramuan itu dengan cukup baik. Signature fun and dynamic, ditambah separasi dan detail yang lebih dari cukup untuk bermusik santai sehari-hari, dikemas dalam build quality dan paket paket penjualan yang terlihat mahal, merupakan modal utama Titan 5 untuk bersaing di pasaran.
Lower treble yang tajam sehingga membuat cepat lelah di beberapa lagu mungkin jadi halangan bagi beberapa orang untuk membeli Titan 5 ini. Sebaiknya dicoba langsung, karena toleransi setiap orang berbeda-beda.

26 September 2015

REVIEW iLuv Peppermint

iLuv peppermint.. Sebuah IEM entry level yang sempat bikin heboh. Sayangnya foto-foto dari peppermint ini lama terjebak di handphone saya yang kena musibah, sehingga saya terlambat untuk curhat di sini mengenai suaranya. Bagaimana impresi dari IEM yang dibanderol Rp 80.000 (Agustus 2015) ini?

Packing dan paket penjualan
Tidak ada yang menarik dari paket penjualan maupun aksesoris yang diberikan.  Di dalam packingnya yang berbentuk silinder gepeng ini, kita hanya akan menemukan IEM dan 3 pasang silicone tips. Sangat standar.

Desain, Build Quality, dan Kenyamanan
Tidak ada yang menarik untuk dibahas dari segi desain. Terasa sangat plain dan tidak ada sesuatu yang membuat mata terpana.
Satu yang saya cukup suka adalah, di bagian atas housingnya ada semacam cekungan, yang ternyata sangat-sangat membantu ketika akan melepaskan IEM ini dari telinga, karena jari kita tepat akan berada di cekungan itu.
Jacknya model straight gold plated, dengan body yang ramping.
Ketika digunakan, surprisingly iLuv peppermint ini terbilang nyaman. Silicone eartipsnya lumayan, biasanya IEM murah tipsnya cenderung kasar dan tidak enak dipakai, namun hal itu tidak terjadi pada peppermint.
Hal yang sangat-sangat disayangkan justru datang dari kabel. Memang sih kabelnya kekinian banget, model-model gepeng kwetiau gitu. Sialnya, bahan pembungkus kabel ini jelek sekali, terlihat kusut. Apalagi ketika baru membuka boxnya, kabel digulung sangat kecil dan ketika gulungannya dibuka, kabel terlihat kriting. Sangat jauh sekalin dengan kabelnya Quadbeat 2, sama-sama kwetiau, tapi Quadbeat 2 kabelnya tidak terlihat kusut meski sengaja digulung asal-asalan sekalipun.

Suara
Setup yang digunakan untuk berimpresi :
1. Laptop > dacport
2. Basic MDX50
iLuv peppermint ini sudah diberi jam terbang cukup tinggi, di atas 100 jam untuk bermusik.
IEM ini overall karakter suaranya klasik V-shaped, bass dan treble lebih menonjol dibanding mid/vokalnya.

iLuv Peppermint memiliki bass yang terbilang cukup besar dan sedikit boomy, bagi Anda yang suka bass saya rasa Anda tidak akan kekurangan kuantitas bass. Hal yang menyenangkan adalah pukulannya terbilang cukup rapi dan solid untuk IEM 80 rebu doang. Hantaman bass empuk dan sangat fun untuk musik-musik ngebeat. Namun untuk musik-musik dobel pedal cepat bassnya blepotan, tidak tegas batas antarpukulannya.

Meski V-shaped, tidak membuat mid dan vokal peppermint ini tenggelam dan tertutupi. Vokal terdengar bersih dan lepas, tidak termakan oleh bass. Suara-suara di midrange pun terbilang bersih untuk IEM harga segini. Petikan gitar, biola, dan instrumen yang numpang main di midrange terdengar jelas dan tidak terasa mendem atau tertahan. Jangan berharap mendapatkan vokal yang intim bertekstur dengan artkulasi memukau, atau detail instrumen yang bikin merinding. Untuk harga segini sih, bagi saya pribadi midrange/vokal yang tidak mendem dan tidak terserang frekuensi lainnya (terutama bass) sih sudah sangat menyenangkan yah.

Highnya cukup, presentasinya tidak mendem maupun terlalu sparkling. Gemerincing  di high sangat mudah dirasakan, tidak ngumpet, yaa meski tekstur maupun detailnya tidak terlalu impresif. High tidak terasa tajam, ketika saya menaikkan volume, high masih terasa enak dan solid, tidak ada gejala terlalu tajam atau pecah.

Jangan berharap banyak pada separasi, soundstage, dan detail dari peppermint ini. Separasi meski kadang masih ada yang bertumpuk namun setidaknya sudah cukup rapi. Soundstage sempit, dan cenderng 2D, imaging suaranya hanya kanan-kiri saja. Detail cukupan saja, cukup sulit untuk mendengarkan detail yang kecil-kecil, namun untuk easy listening sih sudah mumpuni.

Bicara soal genre, iLuv peppermint terbilang cukup allrounder, asalkan bukan untuk musik-musik brutal yang banyak dobel pedal cepat. Bestnya sih di musik-musik yang banyak beat bassnya, seperti EDM. Untuk pop modern pun terasa asyik.

Kesimpulan
Saya rasa iLuv peppermint memiliki potensi yang sangat besar untuk jadi "racun" pertama menuju dunia audio yang lebih jauh. Memang sih jangan berharap banyak pada aspek technicality, namun mendengarkan IEM yang hanya berbanderol 80rb ini sangatlah menyenangkan.

Karakter V-shaped dengan bass solid, mid+vokal bersih dan tidak tenggelam, serta high yang cringnya pas, tidak tajam ataupun mendem, saya rasa akan mudah disukai pasar entry level. Apalagi suara keseluruhan terbilang cukup rapi untuk IEM harga segini.

Saya pribadi tidak akan banyak protes dengan apa yang diberikan iLuv peppermint di harga segini, suara terasa sangat menyenangkan dan tidak membuat lubang yang terlalu besar di kantong Anda.

04 September 2015

Review Basic IE200

Basic strike again!
Setelah sebelumnya memperkenalkan Basic MDX50, Basic juga meluncurkan IEM over ear bernama IE200 with detachable cable. Ingat Moxpad X3? Yap, IE200 pun mengambil pakem serupa, dengan harga yang ditawarkan Rp 200.000
Paket penjualan
IE200 ini akan mendapatkan 3 pasang eartips plus sebuah foam tips, tak lupa diberi shirt clip untuk menjepitkan kabel ke baju. Kelengkapan lainnya akan diupdate jika sudah rilis resmi
Desain, Build Quality, dan Kenyamanan
Basic IE200 menganut desain over the ear ala ala stage monitor alias penggunaannya dilingkarkan ke atas telinga. Mungkin beberapa orang awam kurang terbiasa menggunakannya, namun desain over ear seperti ini memberikan kenyamanan dan kestabilan lebih ketika kita bergerak, sehingga desain ini banyak digunakan untuk stage monitor atau sport. Sejauh ini hanya ada pilihan warna hitam transparan sehingga kita bisa melihat driver dynamic di dalam IEMnya. Tarikan garis desain pada bodynya pun mendongkrak penampilan IE200 ini menjadi lebih keren.
 i
Build quality cukup baik, terbuat dari plastik yang kokoh dan sambungan antarpanel bodynya rapi. Konektor detachable cablenya pun solid, tidak ringkih.
Bicara konektor kabel, IE200 menggunakan pin khusus, berbeda dengan pin yang banyak beredar di pasaran semisal MMCX.
Jack IE200 ini mengingatkan pada bentuk jack Shure SE215. Body jack besar, bagi Anda yang gemar menggunakan case tambahan yang tebal pada DAP atau handphone ditakutkan jack tidak bisa masuk dengan sempurna.
Ketika dipakai, IE200 ini kenyamanannya baik, fittingnya sangat mudah, dan sangat stabil di telinga meski diajak bergerak aktif. Saya tidak menyangka, padahal kalau dipegang eartipsnya tidak terlalu empuk dan lembut, namun ketika dipakai terasa nyaman. Tentu jangan disamakan level kenyamanannya dengan Sony hybrid, ortofon, spinfit, dkk. Dan kalau merasa kurang cocok dengan eartips silikon, Anda masih punya pilihan menggunakan tips foam.

Suara
IE200 ini sudah diberikan jam terbang cukup tinggi untuk mendendangkan musik, yaitu lebih dari 100 jam.
Setup yang digunakan untuk test :
1. Laptop with centrance dacport, player foobar2000 dan bughead
2. Basic MDX50

Kalau Anda suka tipikal suara Moxpad X3, Anda juga pasti akan suka dengan IE200, karena arah suaranya sama.. Suaranya warm dan fun.
IE200 memiliki bass yang besar dan boomy, terasa empuk dan nendang bergetar di telinga, impactnya oke meski hantamannya cenderung agak lebar. Bassnya sangat fun, untuk nyetel lagu yang banyak hentakan-hentakan bassnya sangat nikmat. Namun bass seperti ini kurang cocok untuk lagu-lagu metal yang banyak dobel pedal bass drum cepat, terasa kurang gesit, terlalu lebar, dan kadang overpower.

Vokal terasa sedikit mundur. Presentasi vokal sangat halus, hangat, dan cukup sweet, tidak ada sibilance samasekali. Ketika nyetel lagu-lagu vokal, terasa mengalun lembut dan cukup emosional meski clarity dan artikulasi vokalnya tidak impresif. Saya pribadi harus menurunkan level bassnya dengan equalizer agar vokal lebih nyaman, bersih, dan meminimalisir bass yang kadang overpower. Instrumen-instrumen di midrange terasa smooth namun kurang detailed.

Highnya smooth tapi kuantitasnya kurang banyak. Meski tidak terkesan terkungkung namun karena kuantitas high kurang banyak hingga kesannya treble sedikit ngumpet. Positifnya sih pada IE200 ini sedikitpun tidak ada suara tajam. Setel musik trance, kencangkan volume, dan Anda pun siap bergoyang tanpa takut muncul treble tajam menyayat kuping.

Soundstage IE200 ini cukup lebar, tidak berkumpul di tengah semua. Separasi juga cukup baik, suara-suara cukup rapi, namun untuk instrumen yang kompleks memang masih sedikit kurang tegas. Detail pas-pasan, bagi Anda pecinta microdetail mungkin kurang sreg, namun bagi Anda yang doyan fun listening sih cukup-cukup saja.

Bicara genre musik yang cocok dibawakan oleh IE200, genre-genre basshead adalah jawabannya. Buat pop modern pun tidak kalah enak. Untuk genre-genre, vokal, jazz, blues, akustik, rock, dan metal, bass kadang terlalu lebar dan overpower.

Kesimpulan
IE200 ini cocok bagi Anda yang suka hentakan-hentakan bass powerfull. Bassnya empuk, bertenaga, dan fun. Desain over ear nya pun cakep, untuk dipakai berolahraga atau kegiatan di luar ruangan terasa nyaman.
Namun jika berharap clarity dan detail lebih pada lagu genre tertentu misal vokal, jazz, atau akustik, bass IE200 ini terasa overpower dan lebih enak kalau levelnya diturunkan sedikit menggunakan equalizer. Treble yang sedikit ngumpet mungkin jadi kendala juga bagi sebagian orang, tapi bagi Anda yang benci treble nyerang mungkin akan suka.

31 August 2015

REVIEW Basic MDX50

Basic strike again!
Saat ini DAP (Digital-or Dedicated- Audio Player) model tertinggi dari Basic adalah Basic M90. Sekarang M90 tidak sendirian lagi di kasta teratas DAP Basic, karena akan ada model baru lagi bernama Basic MDX50. Berbeda dengan Basic M90, MDX50 ini rencananya tidak akan dibundling dengan earphone, alias dijual hanya DAP saja. Rencananya, MDX50 akan dilepas di harga Rp 550.000 - Rp 600.000.

Spesifikasi
Screen : OLED display 1,1"
Connector : 3,5mm audio jack, microUSB for data transfer and charging
Storage : 16GB internal, microSD card slot
Battery : more than 80 hours
File support : MP3, WMA (WMA lossless not supported), FLAC (24 bit not supported), WAV, M4A AAC (ALAC not supported), OGG

Paket penjualan
Akan diupdate kemudian

Desain dan Build Quality
Pertama melihat MDX50 ini, yang langsung terlintas di pikiran saya adalah bentuknya seperti remote AC, remote DVD player, atau remote apapun itu lah. Dari atas terlihat seperti balok panjang dengan tombol-tombol raksasa di atasnya.
Bagian belakang plain, tidak ada pernak-pernik apa-apa kecuali tulisan tipe produk dan tulisan-tulisan kecil lainnya. Maaf jika unit yang saya sudah terlihat tidak terlalu mulus lagi, tapi kenyataannya tidak sehoror itu kok, efek pencahayaan membuat baret pemakaian jadi terlihat berlebihan.
Badan MDX50 ini terbuat dari plastik atau bahan lainnya yang mirip-mirip, namun diberi finishing ala-ala brushed metal. Bobot body MDX50 ini sangat ringan, ketika digenggam bahan plastik ringan yang diberikan memberi kesan "murah" dan "kopong", terasa seperti memegang lego mainan anak. Bagian permukaan yang diberi aksen brushed metal pun mudah terkikis, maklum bahan plastik tidak sekeras metal. Namun disamping itu semua, setidaknya pembuatan body dan tombol rapi, sehingga ketika digenggam dan dioperasikan tetap solid, tidak ada bagian yang goyang-goyang.
Di samping terdapat slot microSD tanpa penutup. Bagian bawah berjejer lubang microUSB untuk data transfer dan jack 3,5mm. Tombol power model geser hinggap di bagian atas sendirian.


UI, Navigasi, Penggunaan
Salahsatu faktor yang saya sangat suka dari Basic MDX50 adalah sisi ergonomisnya. DAP ini sangat nyaman digenggam, pun sangat mudah dioperasikan. Dengan dimensi body yang pas, ditambah dengan tombolnya yang besar-besar, sangat memudahkan kita dalam menjelajahi isi dari MDX50 ini. Tanpa perlu melihat tombol secara langsung, kita bisa mengontrol MDX50 ini dengan sangat mudah. Yaa memang sih tombol besarnya ketika ditekan bunyi "cetak cetak", lagi-lagi memberikan kesan "murah", tapi setidaknya tetap nyaman ketika ditekan.

Layar OLEDnya hanya menampilkan warna hitam putih, namun kontras antara hitam dan putihnya baik sekali, sehingga layar terlihat bening. Dipakai di luar ruangan pun tidak masalah, tampilan menu pada layar tetap terlihat jelas, namun jika direct to sunlight memang menjadi sulit terlihat.
User Interface MDX50 ini sangat simpel, hanya memuat 4 baris tulisan, setidaknya pada menu utama dibuat icon-icon yang cukup keren. Navigasi antarmenu maupun di dalam menunya enak, responsif, tidak lemot, tidak ribet, dan tidak bikin pusing. Saya rasa Anda tidak perlu buku manual. Yang perlu diperhatikan, tekan+tahan tombol back akan memunculkan menu "options" ketika Anda sedang berasa di dalam submenu.

Music Player
Ketika membuka menu musik, kita langsung disapa dengan library. Sorting file cukup bagus, bisa all songs, artist, album, atau genre. Kita pun bisa membuat playlist sendiri, dengan cara sorot file yang ingin dimasukkan ke playlist, kemudian tekan+tahan tombol back, dan pilih menu add to playlist. Disediakan 3 slot playlist yang bisa kita gunakan untuk menyimpan lagu favorit.
Tampilan ketika memutar musik sederhana, namun sudah cukup informatif. Jangan berharap album art dari lagu anda akan muncul di sini. Ketika sedang di menu now playing, kita bisa tekan+tahan tombol back untuk memunculkan opsi tambahan, misalnya play mode (shuffle, repeat), sound setting (Equalizer, playback speed), mengatur sleep timer, dan menambah atau menghapus lagu yang sedang dimainkan dari playlist. Oh ya, equalizer yang diberikan hanya preset saja, kita tidak bisa membuat equalizer sendiri.
File dari microSD pun bisa masuk ke library, akan bersatu dengan file yang disimpan di internal, jadi lagu di memory internal dan eksternal tidak terpisah layaknya di Basic M90. Jika ketika memasukkan microSD lagu-lagunya belum masuk ke library, scan manual dengan cara masuk ke menu musik > card folder, muncul notifikasi "create list or not" pilih YES. Scanning file berjalan cukup cepat.

Sound Quality
Beberapa cans yang digunakan untuk test :
Takstar TS671, Sony XBA100, basic IE200, dan iLuv peppermint
DAP pembanding : Xduoo X2, sansa clip+, laptop with centrance dacport

Power dari DAP standar lah untuk DAP masa kini alias cukup besar. Untuk mendrive TS671, suara sudah nyaman di volume 18 dari skala maksimal 31. Untuk earphone-earphone yang ringan, cukup di volume 10 sampai 12.

Langsung saja colok cans dan memutar lagu. Hal pertama yang saya rasakan, MDX50 ini suaranya warm, berkebalikan dengan saudaranya, Basic M90 yang sedikit bright. MDX50 ini pun terasa lebih musikal dibanding saudara semerknya yang memang sih lebih bening dan detil namun terasa dry dan agak membosankan.

Bass MDX50 ini berbobot dan empuk, impactnya cukup baik dan lebih nendang dari M90. Pukulan bass sedikit lebar, namun tidak luber kemana-mana. Untuk lagu-lagu EDM dan pop modern mainstream, presentasi bass seperti ini terasa nikmat, memberi kesan fun dengan bobot dan impact yang baik. Namun ketika nyetel musik-musik yang banyak dobel pedalnya, batas antargebukannya sedikit kurang tegas. Tidak lambat menurut saya, hanya kurang tight saja jadi kurang jelas batas gebukannya.

Midrange dan vokal dipresentasikan dengan lembut, memberikan kesan relax dan hangat. Penempatan vokal di tengah, tidak ditemukan sibilance di sini. Suara-suara instrumen yang kebetulan sedang main di midrange terasa cukup bersih, meski detailnya tidak wow banget. Tidak ada suara-suara tajam atau kasar yang bikin cepat capek, semuanya terasa lembut dan hangat.

High MDX50 ini smooth tapi jangan dianggap mendem looh. High tidak terlalu sparkling dan terasa kurang extend. Tidak ada suara kasar atau tajam samasekali di high, semua serba lembut dan memberikan kesan relax. Detail di high tidak wow banget, kalau sekedar cis cis dan gemerincing sih terdengar jelas, namun detail detail yang lebih kecil dan juga tekstur simbal terkadang sedikit kurang greget.

Soundstage medium, dibilang luas tidak, dibilang sempit juga tidak. Hal yang cukup menyenangkan dibanding M90 adalah tidak terasa 2D banget lagi, suara-suara terasa lebih menyebar. Separasi cukup baik dan lumayan rapi, untuk suara-suara yang kompleks kadang sedikit kurang tegas sih, namun tidaklah buruk, apalagi kalau kuping kita tidak rewel. Detail biasa saja, tidak terlalu menonjol, namun untuk bermusik santai sih sudah cukup banget .

Fitur Extra
Terdapat beberapa fitur ekstra di Basic MDX50 ini.
Pertama ada Radio FM. Fitur pada radio standar saja, kualitas suara pada radio pun kurang bersih dan sangat sensitif terhadap penempatan kabel earphone. Dibandingkan dengan radionya Nokia E52, suara radio MDX50 masih kalah jernih. Terdapat pula fitur FM recording, file akan disimpan dalam format WAV 16bit, 512kbps, 16khz. Kualitas recordingnya pun biasa saja, bahkan lebih bernoise dibandingkan dengan ketika mendengarkan radio langsung.

Kedua ada voice recorder. Kita bisa memilih mau disimpan dalam format mp3, WAV, atau act. Kita pun bisa memilih bitrate recorder mulai dari 512kbps hingga 1536. Ketika dicoba merekam dengan WAV kualitas tertinggi (16 bit, 48khz, 1536kbps), recordingnya sudah stereo, namun background noise masih cukup besar.

Ketiga, ada book reader. Dengan layar yang hanya memuat 3 baris dari file teks yang kita tampilkan, membuat kegiatan membaca di MDX50 menjadi kurang menyenangkan.

Terakhir ada browser. Dari sini kita bisa memainkan lagu jika malas menggunakan library, atau menghapus lagu-lagu yang tidak diinginkan.

Battery
Saya tidak tahu kapasitas baterai yang diberikan, namun Basic mengklaim baterai tahan hingga lebih dari 80 jam,
Saya test memutar file FLAC dengan layar sebagian besar mati dan sesekali nyala untuk oprek-oprek (kalau dibuat perbandingan, mungkin layar nyala : mati adalah 10 : 90). Earphone yang dipakai iLuv peppermint, volume 11/31. Hasilnya, MDX50 tahan 91 jam. Daya tahan baterainya baik sekali, dan ketika indikator baterai sudah terlihat kosong, ternyata MDX50 masih sanggup memutar lagu selama 24 jam.
Charging timenya cukup lama, baterai baru full dalam 5 jam, menggunakan adaptor 5V 1A. Namun dicharge 3 jam pun, MDX50 sudah bisa memutar musik lebih dari 2x24 jam.

Daya tahan baterai dapat berbeda-beda, tergantung penggunaan, kondisi lingkungan, earphone yang dipakai, dan hal lainnya

Kesimpulan
Jadi, bagaimana kesimpulannya, apakah Basic MDX50 ini layak dimasukkan ke daftar belanja?
Jika Anda hanya fokus ke sound quality, saya pribadi sih lebih menyarankan nabung sedikit lagi, nambah Rp 200.000an ada pilihan yang lebih menarik jika hanya sound quality yang jadi pertimbangan.
Namun jika Anda ingin DAP yang storagenya besar (16GB) plus ada slot memory eksternal, daya tahan baterai bagus (lebih dari 80 jam), bisa memainkan banyak format file, nyaman dipakai plus mudah dioperasikan dan sound quality yang masih lumayan punya tentunya, MDX50 di harga Rp 550.000 bisa dilirik. MDX50 memberikan kompromi yang baik sekali antara sound quality, daya tahan baterai, kenyamanan penggunaan, dan storage di kelas DAP entry level. Komposisi suaranya enak, nyaman untuk berlama-lama mendengarkan musik.
Bahan pembuatan memang kayak mainan anak meski finishingnya keren ala brushed metal, namun dari segi kenyamanan penggunaan harus diacungi jempol.

FAQ
Saya kira bakal banyak yang menanyakan hal-hal di bawah ini, jadi sebaiknya baca dulu yah sebelum bertanya :)
1. Bagaimanakah perbandingan dengan sansa atau xduoo x2?
Arah suara sama, technicality yang berbeda. Baik sansa maupun Xduoo X2 memiliki ekstensi di bass dan treble yang sedikit lebih baik dari MDX50. Separasi mereka pun terasa lebih tegas dan rapi.

2. Kalau dengan ruizu atau M90?
M90 terasa sedikit bright, lebih detil dan jernih, namun terasa kurang musikal, 2D, kalah dinamis, dan membosankan dibanding MDX50. Tentu sebaiknya dicoba langsung karena preferensi telinga tiap orang berbeda, namun bagi telinga saya, untuk bermusik saya jelas lebih memilih MDX50 ini.
Untuk ruizu saya hanya pernah coba X02 dan itupun nyobanya sebentar banget, jadi tidak bisa impresi mendalam, Namun kalau diinget-inget, MDX50 ini lebih rapi, dengan arah suara yang sama, warm-warm gitu juga.

3. Berapa GB kapasitas maksimal microSD yang bisa digunakan?
Tepatnya saya tidak tahu berapa, namun microSD 32GB class 10 yang terisi 80% bisa dilahap dengan baik dan tidak menimbulkan lag pada sistem.

4. Bagaimana kestabilan sistem?
Dengan interface yang simpel dan tidak berjejalan fitur seperti saudaranya, MDX50 ini terasa stabil dan sangat responsif. Namun sebaiknya hindari mengisi file-file yang tidak disupport oleh MDX50 ini.

5. Apa plus minusnya DAP ini?
Sudah saya jelaskan tersirat di kesimpulan, silakan pertimbangkan sendiri

19 August 2015

REVIEW Basic HP-22

Kali ini kedatangan headphone portable entry level dari Basic nih, Basic HP-22. Headphone ini sudah diluncurkan belum lama ini dengan harga Rp 220.000 (Agustus 2015). Seperti apa suaranya?

Spesifikasi
Headphone
Speaker : dynamic driver 40mm
Sensitivity : 104dB
Impedance : 32 Ohm
Frequency Response : 20-20.000Hz
Cable length : 1,2m
Plug : stereo 1/8" (3,5mm)

Mic
Frequency response : 75-16.000Hz
Pick-up system : ohmi-directional
Sensitivity : -42dB
Impedace : less than 2,2 Ohm

Packing dan Paket Penjualan
Basic melengkapi HP-22nya dengan kabel standar with mic dan konverter untuk ke laptop/PC yang jack audio dan micnya terpisah, sehingga mic akan tetap berfungsi ketika dicolokkan ke laptop/PC

Desain, Build Quality, dan Kenyamanan
Mengadopsi bentuk portable headphone, HP-22 ini mengusung tema desain clean look. Tidak ada tarikan garis desain yang agresif/atraktif maupun permainan warna yang dinamis, yang terlihat hanyalah headphone yang desainnya simple dengan warna hanya full hitam atau full putih. Finishing glossy diterapkan pada cup headphone yang membuatnya terlihat elegan sekaligus sangat mudah terkotori jejak sidik jari. Desain seperti ini aman untuk digunakan semua orang, baik tua muda maupun pria wanita, tidak akan terlihat norak ketika memakai HP-22.
Headband dibalut oleh busa tipis yang cukup untuk membuat kepala bagian atas tidak terasa sakit ketika menggunakan Basic HP-22 ini. Clamping (jepitan ke kepala) pas, tidak longgar ataupun terlalu keras. Bahan permukaan pad lembut dan tidak membuat gatal, namun untuk pemakaian berjam-jam cukup panas dan busa pad menurut saya masih agak keras sehingga cukup sakitl di telinga. Isolasi suaranya lumayan, ketika dipakai di luar ruangan noise lingkungan cukup teredam, tidak sebaik IEM (In Ear Monitor) tentunya.
Basic HP-22 ini menggunakan detachable cable, yang asyiknya menggunakan konektor jack 3,5mm sehingga kita bisa bebas berkesperimen gonta-ganti kabel aftermarket atau buatan sendiri untuk meningkatkan kualitas suara atau untuk mendapatkan suara yang lebih sesuai dengan selera. Sisi positif lainnya dari detachable cable adalah, jika kabel bawaan rusak, tidak perlu membeli headphone baru atau menyolder ulang, cukup beli kabelnya saja yang banyak tersedia di pasaran. Hanya saja mungkin untuk varian kabel yang ada micnya masih terbatas ketersediaannya, dan jangan lupa perhatikan ada tonjolan pada earcup yang cukup besar di dekat jack, sehingga hanya jack yang bodynya ramping yang bisa masuk ke female jack headphone dengan baik.
Bicara build quality, Basic HP-22 ini terbilang cukup baik. Headphone terasa kokoh, ketika digunakan terasa mantap di kepala tanpa ada bunyi crack berlebihan. Memang sih ada sedikit bunyi crack ketika headphone direnggangkan, tapi ketika dipakai tidak ada lagi meski kita menggerak-gerakkan kepala atau headbang sekalipun. Finishingnya bagus, cat glossynya mulus dan mengkilap tidak terlihat ada bagian yang kasar, begitupun dengan busa di headband yang terpasang rapi. Lipatan jahitan di pad ada yang kurang rapi, tapi siapa sih yang peduli? Toh tidak mempengaruhi fungsi samasekali.
Bahan kabel yang digubakan cukup tebal dan lentur, jack menggunakan straight plug gold plated. Di Samsung Galaxy S3 dengan pemutar musik poweramp, tombol pada remote berfungsi sebagaimana mestinya. bisa untuk berbagai fungsi telepon seperti menjawab/berbicara/mengakhiri panggilan, bisa juga untuk pengontrol musik (play/pause/next/previous). Fungsi mic pun terbilang baik, suara yang terdengar di lawan bicara terdengar jelas.


Suara

Headphone ini sudah diberikan jam terbang menyetel musik cukup lama, lebih dari 100 jam.
Setup yang digunakan :
1. Laptop Lenovo dengan OS windows 8 dan pemutar musik foobar. DAC/amp menggunakan centrance dacport (ASIO out)
2. Direct to Samsung Galaxy S3, pemutar musik Onkyo HF Player/Poweramp

Bass
Basic HP-22 memiliki bass yang besar dan agak boomy, hentakannya cukup kuat. Untuk nyetel musik bassheavy terasa cukup menggelegar, basshead yang mencari portable headphone entry level harusnya sih bakal suka yah dengan bassnya HP-22 ini. Untuk musik-musik pop modern dan musik-musik yang butuh beat-beat bass pun tidak kalah asyiknya, fun abis. Detail dan kontrol bass agak kurang sip, bass terkadang sedikit melebar ke frekuensi di atasnya, cukup mengganggu ketika nyetel lagu-lagu cadas semacam metal dkk, bassnya agak blepotan dan kurang rapi.

Mid
Saya pribadi suka penempatan vokalnya. Gimana yah, dia tuh sedikit forward tapi tidak jauh dari tengah-tengah, sehingga vokal tidak terlalu nyemprot namun bisa melepaskan diri dari serangan bass. Vokalnya pun terdengar hangat, jelas, lepas, dan haluss sekali tidak ada sibilance. Pada lagu tertentu yang nuntut suara jernih misal lagu-lagu vokal kayak Susan Wong, Yao Si Ting, dkk, kadang ada sedikit dengungan diantara midrange dan bass yang membuat suara berkesan kurang bening. Namun untuk lagu-lagu selain yang sejenis dengan itu sih menurut saya tidak terlalu mengganggu yah. Suara-suara seperti gitar, biola, saxophone, dll yang kebetulan numpang main di midrange cukup bersih namun kurang detailed.

Treble
Highnya pas, tidak terlalu sparkling namun presensi high masih mudah dirasakan, tidak terlalu ditenggelamkan oleh suara-suara lainnya. High tidak terasa tajam samasekali, ini kabar baik bagi Anda yang phobia dengan treble nusuk. High di telinga saya kurang crisp dan juga kurang detailed, namun kalau sekedar suara-suara ciss ciss gemerincing sih masih okelah tidak sulit untuk ditangkap.

Separasi, Soundstage, Detail, etc
Separasinya lumayan, suara instrumen tidak terlalu bertumpuk-tumpuk, hanya saja di telinga saya masih kurang rapi dan tegas. Soundstage medium, dibilang sempit tidak, dibilang luas spacious juga tidak. Untuk harga segini sih saya sudah cukup senang yah, setidaknya suaranya tidak ngumpul ditengah semua. Soal detail yaa gitu deh, tidak impresif, harus berkonsentrasi untuk bisa mendapatkan detail kecil, bukan untuk detail lovers.

Genre
Sebenarnya kalau kita banyak bersyukur dan memaklumi, HP-22 ini cukup asyik sih buat berbagai genre lagu. Bestnya sih di musik-musik bassheavy, buat jedug-jedug joss. Buat musik-musik seperti langganan chart top 40 dan musik-musik pop modern lengkap dengan berbagai variannya pun tidak kalah mantapnya.
Agak kurang untuk musik-musik cadas/agresif, atau musik-musik yang nuntut kerapihan dan detail lebih.

Kesimpulan
Basic HP-22 ini lebih mengedepankan karakter suara yang fun, hentakan-hentakannya terasa menyenangkan tanpa ada suara-suara tajam atau kasar yang membuat cepat fatigue. Karakter bass yang besar namun tidak menenggelamkan vokal dan treble yang tidak ngumpet biasanya sih sangat disukai pasar entry-level, dan mungkin juga banyak orang.
Belum lagi keberadaan mic, sangat mengakomodasi para pengguna smartphone yang tidak ingin kehilangan fungsi call handling ketika mendengarkan musik. Kabel detachablenya pun lebih memberikan keleluasaan pada penggunanya untuk mengganti kabel bawaan ketika dia rusak atau Anda kurang puas dengan kualitasnya.
Namun sepertinya HP-22 kurang memuaskan bagi Anda yang senang memberi perhatian lebih pada detail dan kerapihan suara. Anda pecinta musik-musik brutal sepertinya sedikit cemberut karena bassnya yang kurang sip untuk mengejar permainan dobel pedal cepat dan rusuh.

Salahsatu kelemahan dari portable on ear headphone adalah cukup panas dan agak sakit kalau digunakan berlama-lama, dan Basic HP-22 pun masih terasa demikian. Kalau panas sih headphone portable closed memang relatif panas jika digunakan berlama-lama, namun saya berharap busa bisa dibuat lebih empuk agar tidak terlalu sakit ketika dipakai lama.

Plus
(+) bass besar namun tidak terlalu menenggelamkan sisi lainnya, biasanya sih disukai pasar entry level
(+) desain "aman", siapapun yang memakainya tidak akan terlihat norak dan kesan jelek lainnya
(+) ada mic dan detachable cable

Minus
(-) cukup panas untuk pemakaian lama, masalah klasik portable closed on-ear headphone entry level
(-) kurang cocok bagi Anda yang ingin detail dan kerapihan suara yang baik